DI KUTIP DARI HARIAN SEPUTAR INDONESIA PDF Print
Friday, 18 February 2011
NICOSIA (SINDO) – Gejolak politik di Timur Tengah semakin memanas.Korban tewas terus berguguran dalam gelombang unjuk rasa menentang rezim penguasa yang diwarnai insiden berdarah. 

Di Bahrain,polisi antihuru hara menyerbu Lapangan Pearl, Manama, kemarin pukul 3.00 pagi, sambil menembakkan peluru karet dan gas air mata. Serbuan tiba-tiba itu menewaskan sedikitnya empat orang. Lebih dari 95 demonstran juga terluka saat polisi menyerang tanpa peringatan hingga pengunjuk rasa berlarian panik.“Mereka menyerang lapangan saat ratusan orang bermalam di tendatenda,” papar Fadel Ahmad, 37, salah satu saksi mata,kemarin. 

Petugas medis di Rumah Sakit Salmaniya kewalahan saat mobilmobil pribadi dan ambulans terus membawa korban-korban luka. Anggota keluarga korban berkumpul di luar rumah sakit, menangis, marah, dan mengutuk aksi brutal aparat keamanan. Mereka pun meneriakkan,“Kematian untuk Al-Khalifa,”menyebut keluarga kerajaan Bahrain.Tampak juga antrean orang-orang yang mendonorkan darah untuk para korban. Selama penyerangan pagi kemarin, bunyi ledakan dan sirene ambulans dapat terdengar ratusan meter dari pusat lapangan yang diblokade.

Para demonstran pun berlarian dikejar aparat keamanan yang juga mengerahkan helikopter. Kemarin,polisi membersihkan tenda-tenda demonstran saat awan gas air mata masih melingkupi lapangan. Personel aparat keamanan ditambah di Manama, termasuk polisi bersenjata yang memblokade jalan-jalan menuju lapangan. Mereka memasang tempat pemeriksaan di jalan-jalan hingga menyebabkan kemacetan lalu lintas yang sangat panjang.

Saksi mata mengatakan,puluhan mobil militer juga dikerahkan dekat Lapangan Pearl.Pemerintah Bahrain mengabaikan kecaman internasional dan menyatakan mereka tidak memiliki pilihan.“Pasukan keamanan mengevakuasi Lapangan Pearl setelah habis semua peluang dialog,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Bahrain Jenderal Tarek al-Hassan. “Beberapa orang meninggalkan tempat atas kemauan sendiri, sedangkan lainnya menolak mematuhi hukum sehingga diperlukan intervensi untuk membubarkan mereka,”kata Hassan.

Advertisements